dlucky14

Life Without Limits

Catatan perjalanan Tanah Haram

Madinah, 11 Maret 2016

Banyak orang berpendapat bahwa kita  harus siap dulu, punya rencana panjang barulah bisa dijalankan sesuai dengan apa yang kita susun. Betulkah? Nggak apa apa itu kan pilihan hidup. Bukankah hidup kita selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan, bahkan tidak memilih pun merupakan pilihan untuk tidak memilih.

Punya rencana itu wajib, harus, fardhu, kudu, must, perlu kita jalan kan sebagai cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup untuk mencapai tujuan namun jangan hanya menghabiskan waktu dalam menyusun detail rencana, langkah apa, tindakan apa, antisipasi apa dan lain-lain dalam mencapai tujuan sehingga hal inilah yang menyebabkan manusia tidak bertindak, merasa belum siap, takut gagal dan menciptakan ilusi-ilusi pikiran yang belum tentu benar.

Dalam hal tertentu, detail rencana memang perlu dibuat misalnya gambar teknis, perencanaan gedung, perhitungan yang tepat dalam pemilihan bahan bangunan berdasarkan cost and benefit, namun dalam pelaksanaannya bisa saja berubah bukan ? Misalnya perubahan harga bahan bangunan, perubahan selera design pemilik proyek, perubahan kondisi politik dan ekonomi suatu negara, permintaan pasar dan lain sebagainya sehingga mengakibatkan tertundanya suatu proyek atau bahkan stop.  Tidak ada yang pasti bukan?

Lantas bagaimana rencana yang kita susun dalam kehidupan ? Terlalu banyak memetakan detail jangka panjang malah cenderung akan menunda tindakan untuk menggapai tujuan hidup.

Plan-without-Action3-980x418

Misalnya saya akan mudik ke Pagaralam kampung halaman Kakek nenek saya, desa dengan dataran tinggi, dihiasi kebun teh dan kebun kopi cantik, dikelilingi bukit dan memiliki gunung tertinggi di Sumatera Selatan yakni Gunung Dempo. Tujuan saya adalah untuk bertemu keluarga  dengan jarak tempuh kurang lebih 7 jam dari Palembang.

Kondisi pertama adalah saya akan memikirkan dan membuat rencana sedetail mungkin sehingga akan tercipta kondisi ideal sesuai harapan saya yakni tiba di pagaralam dengan selamat dengan memikirkan antispiasi kemungkinan terburuk yang akan terjadi, misalnya :

Dari sisi biaya

Menghitung harga bensin dibandingkan jarak

Menghitung siapa saja anggota keluarga yang akan saya ajak untuk perhitungan kebutuhan konsumsi

Menentukan jenis kendaraan apa, melakukan survey apakah naik kendaraan pribadi atau kendaraan umum.

Kalau ada anggota keluarga yang mau nambah makan gimana.

Kalau tiba tiba harga bbm naik gimana

 

Dari sisi keamanan

Mendekati orang yang terakhir kali ke Pagaralam untuk memantau kondisi jalan.

Langkah apa yang dilakukan jika ban bocor 3x di jalan

Apa yang dilakukan apabila ada perampok ataupun bajing loncat

Kalau keluarga di jalan ada yang sakit apa yang dilakukan.

Kalau ada tanah longsor saat melewati bukit lantas bagaimana?

Kalau curah hujan tinggi bagaimana?

Kalau gunung meletus bagaimana ?

Kalau ada serangan teroris di jalan gimana ?

Ditambah lagi ada cerita ada kecelakaan yang terjadi di jalan, diceritakan karena ada makhluk halus di bukit (padahal kelalaian pengemudi)

Ada keributan di pagaralam (padahal hanya salah paham kecil yang infonya dibesar besarkan yang memberikan informasi)

Dan lain sebagainya sehingga akan mempengaruhi tindakan yang berakibat penundaan dan menghabiskan energi serta waktu.

Eeeeeeehhhhh, ternyata setelah satu tahun membuat rencana, antisipasi, mempersiapkan dana, mengumpulkan keberanian dan meyakini mentalnya sudah siap, dalam perjalanan ternyata banyak keluarga yang awalnya pengen ikut malah sudah punya kegiatan lain karena sudah punya acara masing-masing, ditambah lagi saya mendapatkan info bahwa di pagaralam sedang ada pilkada sehingga seluruh penginapan penuh.

Jadilah saya mulai menyusun rencana lagi supaya bisa mudik.  Akhirnya saya mulai menghabiskan waktu dan energi lagi untuk menyusun rencana, akibatnya adalah banyak kekecewaan karena berjalan tidak sesuai harapan. Padahal ketemu keluarga adalah kebutuhan saya sebagai manusia sebagai makhluk sosial yang mau tidak mau harus dipenuhi karena itulah fitrahnya manusia. Namun karena terlalu banyak rencana, saya mengorbankan kebutuhan hanya karena terlalu takut dengan kondisi kondisi yang belum tentu terjadi berdasarkan ketakutan yang diciptakan pikiran.

Thinking-Too-Much

Perubahan terus terjadi, terlalu banyak berpikir dan terlalu banyak membuat rencana hanyalah akan menghabiskan energi serta kekecewaan

 

Bandingkan dengan kondisi 2.

Saya ingin pergi ke Pagaralam (rencana jangka panjang/goal). Yang saya lakukan adalah :

Memberitahu keluarga misalnya 5 hari lagi berangkat (rencana + action)

Kalau banyak yg ikut cari tambahan mobil. Selanjutnya berangkat.

Kalaupun di jalan ada kekurangan dana, bisa saja bantuan datang dari anggota keluarga yang lain

Kalaupun di jalan pecah ban, pertolongan bisa dari kendaraan yang lewat.

Kalaupun di jalan ada tanah longsor, bantuan Pemda setempat akan datang membereskannya.

Kalaupun ternyata di Pagaralam penginapan penuh, bisa saja keluarga disana mempersiapkan kamar dan tidur bersama.

So ? Apa yang sudah direncanakan bisa sesuai bisa tidak bukan ? Kalaupun sesuai rencana, dengan bertindak maka kita akan semakin cepat bertemu keluarga.

Kalaupun tidak sesuai rencana, dengan bertindak kita bisa tau kendala yang dihadapi pada saat perjalanan karena langsung dihadapkan dan kita perbaiki bersama sama anggota perjalanan kita, bukankah semakin banyak orang yang membantu berpikir dan bertindak masalah seberat apapun bisa terselesaikan? Sehingga kebutuhan kita untuk bersilaturahim dengan keluarga bisa terpenuhi bukan ?

Dengan bertindak maka akan mempercepat tercapainya tujuan ataupun kebutuhan kita.

download

Mulailah rencana jangka panjang dengan mengerjakan rencana jangka pendek terlebih dahulu. Just Do IT

 

Intinya adalah niat baik dan hati yang tulus, jika menjalankan silaturahim tentu akan mendapatkan  kebaikan pahala dari-Nya. Niat yang baik akan dibantu oleh-Nya, apalagi merupakan perintah dari-Nya. Selain itu tentu saja akan dimudahkan oleh-Nya meskipun dalam perjalanan akan dijui oleh-Nya untuk membuktikan apakah kita pantas atau tidak dalam mendapatkan Redho dan Berkah dari-Nya.

Hai kawan, memang tidak ada yang salah dari dua contoh diatas. Siapa kita dan jadi apa kita sekarang adalah hasil dari pilihan di masa lalu kan ? Banyak orang yang berpikir harus siap dulu baru bertindak dan menunggu waktu yang tepat. Sesungguhnya waktu yang tepat itu tidak akan pernah ada jika kita tidak memulai.

Misalnya seperti melaksanakan ibadah Umroh dan Haji. Banyak yang bilang bahwa dia belum pantas untuk ke tanah suci dengan alasan :

 

Takut di tanah suci terjadi apa-apa karena mendengar ceirita orang seperti :

Ibadah saat ini masih kurang sehingga merasa kurang layak berada disana

Belum ada dana yang cukup

Nanti saja kalau sudah punya pasangan dan anak

Pengalaman orang yang mengalami kejadian “gaib” di tanah suci seperti tersesat padahal hotelnya dekat, melihat yang aneh-aneh, hilang sandal, selalu menemui kesulitan karena tidak menjaga lisan, ada yang terinjak injak hingga meninggal dan sebagainya.

Akhirnya yang terjadi adalah tidak pernah ditemukannya waktu yang tepat dan selalu merasa belum siap.

 

Mari sejenak renungkan, ibadah ke tanah suci adalah perintah dari Dia. Kalau kita niatkan dan berdoa kepada-Nya sudah tentu akan dimudahkan jalannya. Tinggal berdoa kepada-Nya untuk minta diundang menjadi tamu-Nya dengan memperbaiki diri sebelum berangkat. Berdoa dan niatkan agar diberikan kekuatan dan kelancaran supaya pantas untuk menjadi tamu-Nya di tanah suci meskipun dalam prosesnya Dia menguji kita untuk melihat seberapa jauh kualitas diri kita. Sekali lagi, niatkan karena Dia dan sudah pasti dibantu dengan cara yang tak terduga.

 

Jangan pernah berfikir bahwa impian kita seluruhnya akan dikerjakan oleh kita seorang diri. Kalau dipikirkan dengan logika dan membuat detail-detail terlalu panjang sudah tentu pikiran kita akan mengatakan MUSTAHIL.  Batasan manusia hanyalah di pikiran. Libatkanlah sang pencipta, entah ada saja caranya untuk membantu kita melalui makhluk yang ada di alam semesta.

 

Setelah diniatkan berangkat seorang diri, dalam proses keberangkatan menuju tanah suci, ada saja hal yang memudahkan seperti suntik meningitis dibantu oleh kenalan orang tua meskipun kliniknya telah ditutup, diberikan bantuan finansial tak terduga, tiba-tiba dokumen yang hilang bertemu, dipertemukan dengan ulama kondang dan saat keberangkatan ada yang mengantar ke bandara hingga dipertemukan dengan jamaah lainnya yang menambah teman baru.

Dalam proses beribadah, banyak kejadian dan ujian kecil yang bisa dijadikan pelajaran misalnya :

Baru sampai di bandara ehhhh sabuk ketinggalan di toilet dan hilang. Ikhlaskan.

Menunggu giliran di imigrasi karena banyak peserta sementara mata mengantuk. Sabar karena marah-marah dan gelisah tidak ada gunanya.

Pada saat sa’i dari bukit safa ke marwah terlintas pikiran “ahhh nenek nenek saja bisa, gw kan kuat lari 21 kilo, bisalah kalo cuma kayak gini”. Eehhh ternyata malah kaki mendadak kaku sehingga sulit sekali berjalan, seketika saya minta maaf kepada Allah atas kesombongan yang terlintas. Meminta untuk dikuatkan dan dilancarkan sampai selesai. Alhamdulillah setelahnya bisa dilanjutkan ibadahnya. Kesombongan hanya akan menghancurkan diri dan tidak boleh memandang remeh orang.

Sesaat setelah tawaf, sandal satu-satunya yang dibawa hilang dan tidak ada jualan di sekitar sehingga harus jalan dengan kaki telanjang menuju penginapan di atas aspal. Diajarkan bahwa apa yang direncanakan belum tentu sesuai harapan.

 

Untuk penginapan jumlah peserta dalam kamar adalah 4 orang sementara kunci yang diberikan hotel cuma satu yang artinya kami berempat harus berdekatan untuk memudahkan koordinasi.

Saat kembali ibadah kondisi masjid sangat padat sehingga kami terpisah. Semakin dicari semakin tidak bertemu ditambah lagi dengan kontak badan dan dorongan dari jemaah lain yang mengakibatkan kami semakin terpental menjauh.

Pencarian teman satu kamar terus dilakukan, semakin keras berusaha rasanya semakin hilang harapan ketemu. Semakin mencari malah tidak ada tanda-tanda bertemu. Hingga akhirnya terpikir ” ya sudahlah kalau takdir bertemu teman pasti dibantu”. Saat pasrah, eeeeehhh malah saling bertatap muka dengan teman satu kamar yang saling mencari.

Ibaratnya, sang pencipta ingin mengajari kita bahwa ikhtiar yang keras saja tidaklah cukup tanpa keihlasan dan berserah diri kepadaNya. Justru pada saat kita merasa berputus asa dan mengikhlaskan saat itulah pertolongan dari-Nya datang. Sekali lagi, libatkanlah Dia maka akan dibantu dengan caraNya.

Ibarat Nabi Adam yang mencari Siti Hawa dari bukit Safa ke bukit Marwa, keduanya saling mencari hingga waktu yang sangat lama. Saat kesabaran mereka diuji dan mereka minta bantuan kepada Allah swt, saat itulah kesabaran membuahkan hasil dengan dipertemukan di Jabal Rahmah. Subhanallah. Dalam hal apapun, ketika kita sudah merasa berusaha maksimal namun belum membuahkan hasil, libatkanlah Dia, berdoa dan pasrahkanlah.

Mungkin seperti itulah kekuatan ikhtiar dengan melibatkan pertolongan sang pencipta sehingga alam semesta mendukung.

Sekali lagi, miliki visi jangka panjang, langsung berikhtiar, tidak ada waktu yang tepat untuk mencoba kecuali meminta bantuan darinya untuk dimampukan, doakan, pasrahkanlah untuk hasil yang terbaik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 4, 2016 by .
%d bloggers like this: