dlucky14

Life Without Limits

Singgasana Dewi Anjani setelah 2,5 tahun (Menunggu)

05 Mei 2016

10 jam tersesat di Gunung Rinjani dengan kondisi kelelahan, kehabisan air, tanpa logistik, tanpa tenda dan tanpa peralatan memasak tampaknya akan membuyarkan semua rencana perjalanan yang sudah disusun. Bagaimana mungkin bisa kembali menyelesaikan pendakian dari desa sembalun, Plawangan Sembalun, Puncak Rinjani, Danau Segara Anak dan terakhir Gerbang Senaru dengan meyisakan waktu satu malam.

Wajah-wajah tertunduk lesu 6 orang ini terlihat jelas. Beberapa wacana mulai dari eksplorasi pantai di Lombok hingga ke Bukit Pergasingan yang baru populer belum mampu melambungkan antusias kami semua. “Gw pengen ke puncak, beneran… Kalo nggak ngapain gw sampai mau dua kali jauh-jauh ke Lombok. Tapi kalo nggak ada logistik, tenda dan perlengkapan lain sama saja dengan bunuh diri namanya” itu pendapat yg saya sampaikan ke temen-temen. Dada berasa sesak, bagaimana bisa saat raga sudah berada di Rinjani, jarak sudah bukan masalah tapi kaki tak punya kuasa untuk melangkah.

Malam hari saat tiba di home stay, suasana semakin hening, 3 orang berada di dalam kamar. 3 orang lagi termasuk saya berada di kantin untuk makan malam, berbincang sebentar dengan pengelola dan perbincangan tersebut seolah menjadi pupuk bagi tunas semangat kami yang mulai layu.

Kami ber 6 mengolah hasil diskusi bersama pengelola secara antusias, penuh harapan dan kesimpulannya adalah keesokan hari, tanggal 6 Mei 2016 kami akan mengulangi pendakian dengan satu tujuan yakni Puncak Rinjani. Danau segara anak dan Desa Senaru harus kami korbankan karena tujuan utama kami adalah Puncak Rinjani. Itupun dengan catatan : berangkat jika pengelola berhasil mencarikan porter (karena kabarnya sudah tidak ada lagi porter) dan perlengkapan wajib pendakian. Tidur malam itu pun terasa enjoy.

20160506_091101~2

Rinjani – Hari kedua : Memulai kembali pendakian 

06 Mei 2016
Anggota kami bertambah 2 orang lagi dari Bali karena saat di perjalanan sebelum ke gerbang pendakian kebetulan bertemu mereka, berkenalan dan bergabung, total ada 8 orang yang siap mendaki saat itu.

 

20160506_091913

Rinjani – Bunga Matahari di Gerbang Sembalun

Seperti biasa, setiap akan mendaki selalu dimulai dengan doa semoga kali ini kami diberikan keselamatan sampai ke puncak.
Saat berjalan, kami melihat jalur yang kami pilih kemarin ternyata sudah ada palang tanda tidak boleh dilewati dan kami haru memilih sisi kanan jalur yang turun. “Oooh disini rupanya kita tersesat, jadi jelas sekarang..”

20160506_100129

Rinjani – Perasaan Bahagia mendekati Pos 1

Sekitar 90 menit berjalan, tiba di pos 1 untuk beristirahat. Seperti biasa, trek nya relatih mudah namun sedikit panjang. Dominasi savana, kontur tanah dan perbukitan hijau menjadi ciri khas jalur sembalun. Menurut pendapat saya, lebih eksotis pada bulan Oktober 2013 karena padang savana berwarna gradasi kuning keemasan – hijau akibat musim kemarau.

Dari pos 1 ke pos 2 jalurnya lebih pendek namun jalanan sudah mulai menanjak. Jam 12 siang tiba di pos 2 hanya untuk mengisi air minum dari mata air. Hujan sempat turun kembali saat kami berada di pos 2, sehingga perjalanan sempat terhenti.

20160506_112320

Rinjani – Pos 2, check point untuk mengisi air

 

20160506_114703

Rinjani – Pos 2, Hujan Turun

Jam 13.30 tiba di pos 3, niatnya kami beristirahat sebentar untuk makan siang. Tapi akhirnya malah menghabiskan waktu 1 jam disana karena peralatan memasak yang terbatas.

20160506_132131

Rinjani – Pos 3, Time to Lunch

20160506_142517

Rinjani – Pos 3, Mie Instant tetap menjadi Pilihan Terbaik

“Dari pos 3 ke plawangan sembalun berapa jam bang ?” mereka bertanya

“Sekitar 3 jam kalo normal, setelah pos 3 ini trek sudah nanjak semua dan kita akan ketemu Bukit Penyesalan. Ada yang bilang 9 lapis ada yang bilang 7 lapis. Dulu belum sempat ngitung” jawab saya. Ok, lanjut perjalanan.

20160506_155038

Rinjani – Bukit Penyesalan setelah Pos 3

Harapannya semoga kami tiba di pos Plawangan Sembalun sebelum sunset. Kami mulai berhitung penasaran berapa jumlah lapisan bukit tersebut dengan frekuensi istirahat yang lebih sering dari biasa karena kombinasi beban dari keril yang dibawa dan tanjakan curam. Yes ternyata betul ada 7 lapisan bukit dengan bukit terpanjang adalah bukit terakhir.

20160506_160702

Rinjani – Menapaki Bukit Penyesalan

Tiba di pos Plawangan Sembalun ketingguan 2500 MdPL persis sebelum sunset, cari tempat untuk berkemah sambil menikmati kopi dan teh susu dengan background langit kuning emas sunset dan siluet bukit berbaris yang menjadi pagar Danau Segara Anak. Suasana saat itu sejenak mengalihkan suasana hati dan kondisi pikiran tentang Jakarta dan segala sesuatu yang terjadi sebelum saya berangkat ke Gunung Rinjani. Nikmat sekali

20160506_174211

Rinjani – Persis sebelum Sunset tiba di Plawangan Sembalun

DSC07642-01

Rinjani – Romantic Sunset with Segara Anak Lake

DSC07646-02

Rinjani – Me and Sunset Plawangan

20160506_131345-01

Rinjani – Tersisa beberapa Bukit lagi sebelum Plawangan

DSC07628-01

Rinjani – Tenda Pendaki di Plawangan Sembalun

DSC07690-01

Rinjani – Milky Way di Plawangan Sembalun

07 Mei 2016
Pukul 01 dinihari, alarm berbunyi (dan sepertinya memang tidak dibutuhkan karena saya tidak bisa tidur akibat ukuran tenda yang terlalu kecil). Karena sudah pernah sebelumnya, saya diberikan kepercayaan untuk briefing dan memimpin doa “Masih ada sekitar 1200 meter vertikal yang harus dilalui. Sekitar 4 s/d 5 jam, tetap bersama dan pastikan daypack terisi perbekalan yang cukup dan terus bergerak agar tidak kedinginan,  berdoa mulai”.

Angin pada malam itu tidak terlalu kencang seperti 2,5 tahun silam. Kami mulai berbaur dengan pendaki lain dan mulai membentuk barisan lampu menuju tahta Dewi Anjani. Seperti biasa, namanya gunung berapi pasti identik dengan tanjakan pasir dan abu vulkanik. Mendaki Rinjani ibarat summit 2 kali dalam 1 hari, pertama trek bukit penyesalan dan kedua adalah the real summit. Jadi persiapan fisik harus betul-betul diperhatikan. Banyak istirahat, saling menunggu dan menyemangati memang sudah seharusnya dilakukan saat summit attack.

Sekitar pukul 5 pagi, sendi antara paha dan betis saya mengalami rasa sakit. Otomatis langkah mulai melambat padahal sedikit lagi tiba di puncak. “Dulu memang pernah gagal, tapi tidak untuk kali ini. Sudah terlalu lama waktu dan usaha yang dikorbankan untuk mencapai puncak. Kalaupun harus cedera parah itu risiko dari pilihan yang dibuat. Kalau kali ini sampai gagal… Hmm mungkin selamanya saya tidak akan pernah berada di puncak” dalam hati saya mengatakan itu.

LRG_DSC07778-01

Rinjani – Hello Sunrise

DSC07839

Rinjani – Merah Putih Mulai Terlihat

DSC07808

Rinjani – Almost Done

DSC07826

Rinjani – Beberapa Meter Menuju Puncak

DSC07750

Rinjani – Siluet Pendaki

DSC07763

Rinjani – Sunrise yang Menghangatkan Badan

DSC07793

Rinjani – Sunrise

Sekitar Pukul 06.30, tiba di ketinggian 3726 MdPL Puncak Rinjani. Kegagalan, kesabaran menunggu dan impian selama 2,5 tahun yang lalu terbayar sudah. Kami saling berpelukan dan memberikan semangat, pada saat itu. Entah apa yang dirasakan oleh teman-teman yang baru saya kenal 2 hari mendaki bersama, sepertinya mereka happy dan puas atas pencapaian tersebut.

Saya belum tahu pasti apa yang saya rasakan saat berada di puncak yang paling indah seantero Indonesia. Suasana hati yang naik turun, perasaan kehilangan, belum tahu akan ditempatkan di kota apa, serta masa depan saat harus memulai sesuatu dari awal kembali.

Saat berhasil menaklukkan Rinjani apakah saya merasa senang, bahagia, puas, bangga ? Itu sudah pasti. 2,5 tahun menunggu kesempatan kedua, terus menjaga kondisi fisik, mengambil kesempatan pada saat long weekend, niat sendirian mendaki hingga akhirnya bertemu dengan teman-teman baru yang kompak. Pengalaman itu tidak bisa dinilai atau digantikan dengan materi. Hanya saja momen tidak mengenakkan saat berada di Jakarta beberapa waktu silam sempat bertamu di pikiran dan mengganggu euforia.

DSC07790

Rinjani – Sunrise Segara Anak Sebelum Puncak

DSC07900

Rinjani – Danau Segara Anak

DSC07895

Rinjani – Puncak Rinjani

LRG_DSC07873

Rinjani – Setelah 2,5 tahun menunggu akhirnya tercapai

DSC07905

Rinjani – Keadaan Sekitar Puncak

20160507_101204-01

Rinjani – Salah satu Spot untuk Berfoto

20160507_091601-01

Rinjani – Me and Segar Anak

20160507_090143

Rinjani – Danau Segara Anak

07.30 WITA, Sekitar 1 jam berada di puncak lalu kami mulai turun menuju perkemahan. Awalnya saya rasa tidak ada masalah di kaki dan hanya sakit biasa, namun rasa sakit itu semakin lama semakin besar karena saat turun beban yang ditahan menjadi 2x lipat. Kondisi ini menyebabkan saya terpisah dari rombongan. Karena air sudah habis, saya harus meminta air dengan pendaki lainnya saat bertemu di jalan. Harusnya waktu turun jauh lebih cepat yakni sekitar 2 jam, tapi saya membutuhkan waktu 5 jam sambil berjalan terpincang untuk sampai ke lokasi camp.

Teman-teman sudah menunggu di tenda, namun mereka sengaja belum makan siang sampai menunggu semuanya lengkap padahal saya tahu mereka juga belum sempat sarapan. Keterbatasan waktu memaksa kami untuk segera meninggalkan Plawangan sembalun dengan alasan supaya tidak terlalu malam tiba di home stay. Maskimal jam 2 siang harus mulai jalan turun melalui jalur yang sama dengan saat mendaki dan tentu saja akan berjumpa kembali dengan Bukit Penyesalan.

20160507_101648

Rinjani – Sisi Lain Rinjani

20160507_103248

Rinjani – Menuruni Puncak, Kembali ke Plawangan

Selintas sikap pesimis datang ke pikiran “Alamak, apa gw sanggup turun ditengah kondisi kaki yang cedera? Turun dari puncak tanpa beban saja sulit apalagi sekarang membawa keril dengan durasi lebih panjang? Ditambah lagi semalaman tidak tidur dan sekarang habis makan siang udah mau langsung turun” sudahlah kalo sudah bertekad penghalang sebesar apapun pastu bisa dihancurkan.

Menuruni bukit penyesalan tentu saja berat, dengan kondisi kaki cedera sudah pasti saya di urutan terakhir dan tertinggal jauh. Namun saat itu Erfan secara sukarela akan menemani saya selambat apapun langkah kaki dan dia juga meminjamkan tracking pole nya untuk menahan beban badan saat turun.

Kaki kiri terasa semakin sakit, sementara kaki kanan yang saya gunakan untuk menumpu beban juga mulai sakit. Matahari juga sudah mulai meninggalkan kami dan berganti dengan bulan, selain itu ada satu tamu lagi yang pada malam itu tidak kami harapkan untuk datang. HUJAN!!!

Total selama 3 hari secara berturut-turut hujan datang menemani pendakian kami dan membuat badan semakin menggigil kedinginan. Malam hari saat menuruni gunung, mata saya terpejam sambil berjalan seolah itulah batas maksimal kemampuan tubuh. Untuk mengatasinya terpaksa saya menampar pipi sendiri agar tetap terjaga di perjalanan. Begitu terus hingga akhirnya kami tida di gerbang pendakian pukul 10 malam. Bisa jadi dalam waktu yang lama saya tidak akan naik gunung karena kondisi kaki yang masih sakit saat tulisan ini dibuat.

Tanpa menghitung hari pertama yang tersesat 10 jam. 9 jam perjalanan sembalun ke plawangan + 10 jam pp summit + 8 jam perjalanan pulang. 2 hari 1 malam Tanpa tidur, cedera sendi kaki dan Kurang lebih 27 jam berjalan kaki. Inilah perjalanan ke gunung paling menyiksa yang saya rasakan.

Namun semuanya itu terbayar melebihi apa yang yang diharapkan sebelumnya: kesempatan mengenal diri sendiri,  pengalaman luar biasa selama pendakian,  keindahan alam rinjani, perasaan damai, udara segar, sensasi berada di puncak, teman baru, kekompakan, canda tawa, arti berbagi, teamwork serta belajar bahwa untuk mencapai impian (puncak) harus dimulai dengan niat dan dilakukan dengan perjuangan tak kenal kata menyerah.

Ini bukan soal seberapa tinggi gunung yang akan kita daki, seberapa jauh ia berada dari tempat kita tinggal, seberapa banyak halangan yang akan dihadapi saat kita menjalaninya. Masalah bukanlah masalah tergantung dari cara kita menyikapinya. Kata kuncinya adalah NIAT.

Niat adalah bahan bakar yang dapat menggerakkan kita. Jika sudah berniat kuat, maka pikiran akan menggerakkan tubuh, bersekongkol dengan alam semesta untuk mencari solusi serta memecah tembok atas seluruh halangan dan batas yang tercipta.

Sebaliknya jika dari awal memang sudah tidak ada niat, jangankan gunung beranjak sejengkal dari tempat tidur pun akan terasa berat dan pikiran akan selalu mencari-cari alasan pembenaran atas tindakan tersebut.

Puncak gunung (Sukses) merupakan sebuah titik yang tercipta atas banyaknya perjuangan, kegagalan, kesabaran, kecewaan dan air mata. Namun saat berada di puncak, seluruh perjuangan dan kesakitan tersebut akan terbayar lunas melebihi harapan.

Keep on struggle, keep on fighting and enjoy your amazing life  🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 13, 2016 by .

Navigation

%d bloggers like this: